Sinar Agama

Yayasan Mulla Shadra Hasan Abu Ammar

Peristiwa Pengorbanan Nabi Ismail Oleh Nabi Ibrahim dalam Pandangan Filosofis

﷽ Bagaimana penafsiran secara filosofis mengenai peristiwa pengorbanan yang dilaksanakan Nabi Ibrahim as dengan menyembelih anaknya, yakni nabi Ismail as. Sementara, pengetahuan para Nabi meliputi setiap kejadian tanpa batasan ruang dan waktu. Dengan begitu, apakah pengorbanan dalam kasus di atas masih bermakna? Ikuti tanggapan Ustadz SA terkait pertanyaan di atas di dalam PDF berikut:

Selengkapnya >

“Filsafat Laknat Allah”

﷽ Tuhan adalah Zat yang sempurna dan tidak terbatas. Oleh karena itu Dia hanya memiliki kesempurnaan dan tidak memiliki kekurangan sedikitpun. Karena itu, Dia selalu menyinari, menghidayahi, menyantuni, merahmati dan seterusnya dan tidak pernah sebaliknya. Dengan demikian pahaman laknat, menyesatkan, murka dan semacamnya, harus dicarikan makna yang sepadan dengan ZatNya. Artinya, yang sesuai dengan kesucianNya …

Selengkapnya >

Filsafat Kesempurnaan

﷽ Kesempurnaan itu adalah tidak adanya kekurangan. Akan tetapi ketidak adaan kekurangan ini harus sesuai dengan ekstensinya masing-­masing. Kalau ekstensinya tidak terbatas, maka kesempurnaannya adalah tidak adanya kekurangan apapun sekalipun perubahan. Dan kalau terbatas alias terqadar, maka sempurnanya adalah tidak adanya kekuarangan sesuai dengan qadarnya itu. Bukti kesempurnaan Tuhan, Intinya adalah karena semua keberadaan yang …

Selengkapnya >

Filsafat Do’a

﷽ Doa, adalah akibat yang muncul dari sebab yang bernama manusia. Dan karena doa itu ditujukan kepada Allah swt. Tuhan adalah Wujud Mutlak. Artinya tidak memiliki esensi. Artinya tidak memiliki batasan. Karena itu, ketika Ia adalah Wujud seperti itu, maka Ia tidak akan pernah mengakibatkan keburukan apapun, baik yang berupa bencana, kesesatan atau bahkan siksa …

Selengkapnya >

Allah itu di Langit?

﷽ Memakrifati Allah sebagai Wujud atau Zat Tak Terbatas, akan mengikis kemerasaberadaan dan kemuliaan dirinya sendiri. Karena itu, semakin ia menyembahNya, semakin tidak melihat diri dan kebaikannya serta melihat dirinya yang tersisa, lebih buruk dari yang lainnya. Di sini, dia tidak akan pernah terganggu dengan kesombongan. Karena dia semakin meniada…..

Selengkapnya >

Akal itu Yang Menaati Allah dan Berusaha Menggapai Surga

﷽ Definis akal di dalam riwayat yang diriwayatkan oleh imam Jakfar Shodiq as adalah: Apa-apa yang dengannya Allah swt ditaati dan disembah dan dengannya Surga digapai. Salah satu tafsiran yang bisa diraba dari riwayat ini adalah: Akal memiliki dua makna secara hakiki: Pertama, memahami sesuatu dengan benar dan dengan dalil gamblang. Ke dua, memahami bahwa …

Selengkapnya >

Wahdatulwujud Dalam Pandangan Filsafat Mulla Shadra ra, Masysyaa’ dan Irfan

﷽ Wujud Kalau dilihat dari sisi filsafat, hanya ada satu, tapi bergradasi. Yaitu perbedaannya kembali ke persamaannya, yaitu wujud itu sendiri. Jadi, maksud gradasi adalah wujud yang bertingkat yang dibedakan dari sisi wujudnya, bukan esensinya.  Tapi kalau dilihat dari Irfan, maka wujud itu memang hanya satu dan yang terlihat banyak ini hanyalah esensi saja. Dan …

Selengkapnya >

Wahdatu Al-Wujud (Bgn: 2)

﷽ Semua keberadaan dan aktifitas aksident bertopang pada substansi dan substansi pada wujud. Konsep ada dan gerak yang ada pada non materi sama saja dengan materi selama ia masih berhubungan dengan materi, sekalipun ada perbedaannya, tetapi secara global adalah sama. Dengan demikian peristiwa/gerak/proses yang ada terjadi pada aksiden, bergantung dan bersumber dari substansi. Begitu pula …

Selengkapnya >

Wahdatu Al-Wujud (Bgn: 3)

﷽ Bagaimanakah tingkatan-tingkatan wujud dalam keber”ada”annya, sebagimana yang dimaksud Mulla Shadra ? Apakah tingkatan-tingkatan wujud tersebut bersifat kekal sejak adanya atau mengalami evolusi, perubahan, perombakan, atau bahkan pemusnahan ? Apakah alam materi yang sekarang ini merupakan alam materi pertama.. lalu, apakah ada penciptaan makhluk di alam materi setelah hari pembalasan ? Silahkan disimak ulasan dan …

Selengkapnya >

Lanjutan Wahdatul Wujud (bgn 5) Tahap 3

﷽ Tak seorangpun dibolehkan mengikuti kata hati. Kalau maksud hati disini adalah tempat merasakan sedih, senang, marah …dan seterusnya, dimana dalam istilah filsafat disebut ruh ­hewani dimana semua binatang  juga memilikinya. Karena hati ini bukan ukuran kebenaran. Tetapi kalau hati yang bermakna akal, maka dia adalah  akal itu sendiri dan bisa dan bahkan harus dijadikan …

Selengkapnya >

error: Copyright © 2020, Sinar Agama - Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra